Selasa, 17 Mei 2011

ASUHAN KEPERAWATAN MATA TUMOR ORBITA

TUMOR ORBITA

A. Definisi
Tumor orbita mata adalah tumor yang menyerang rongga orbita (tempat bola mata) sehingga merusak jaringan lunak mata, seperti otot mata, syaraf mata dan kelenjar air mata. 
Rongga orbital dibatasi sebelah medial oleh tulang yang membentuk dinding luar sinus ethmoid dan sfenoid. Sebelah  superior oleh lantai fossa anterior,  dan  sebelah lateral  oleh zigoma, tulang frontal dan sayap  sfenoid besar. Sebelah inferior oleh atap sinus maksilari.        

        
B. Patologi      
Tumor  bisa tumbuh dari struktur yang terletak  didalam atau sekitar orbit:
Kelenjar lakrimal:
Adenoma fleomorfik: biasanya jinak, tapi rekurensi terjadi bila tidak dilakukan eksisi lengkap.

Karsinoma
Jaringan limfoid: 
Limfoma: Tumbuh primer didalam orbit, atau sekunder  atas kelainan menyeluruh pada tubuh.


       Retina: 
Retinoblastoma: Tumor anak-anak yang sangat ganas.

Melanoma
Tulang:
Osteoma: biasanya mengenai sinus frontal atau  ethmoid, bisa menyebabkan mukosel frontal.
Sista dermoid
Sista epidermoid
Sinus paranasal, nasofaring:
Karsinoma: Sering menginvasi dinding medial  orbit pada tahap dini penyakit.
Selubung saraf optik:
Meningioma: sering meluas keintrakranial melalui  foramen optik.
Saraf optik:
Glioma (astrositoma pilositik): Tumbuh sangat lambat.
  Neurofibroma/neurinoma
Jaringan ikat: 
Rabdomiosarkoma: Tumor  anak-anak ganas dengan  pertumbuhan dan penyebaran lokal cepat.
Metastasis melalui darah:
Dewasa: Karsinoma 'breast'
Karsinoma bronkhial
Anak-anak: Neuroblastoma
Sarkoma Ewing
Leukemia
Tumor testikuler
Lesi orbital non-neoplastik:
Hemangioma/limfangioma  kavernosa: Lesi jinak yang  sering terjadi pada dewasa.
Pseudotumor
Eksoftalmos endokrin
Granulomatosis Wagener
Histiositosis X
Sarkoidosis
    Fistula  karotid-kavernosa  tampil  dengan  eksoftalmos pulsatif.
            
C. Tanda dan Gejala Klinis
   Nyeri orbital: jelas  pada tumor ganas yang tumbuh  cepat,  namun juga merupakan gambaran khas  'pseudotumor' jinak dan fistula karotid-kavernosa.
Proptosis: pergeseran bola mata kedepan adalah gambaran yang  sering dijumpai, berjalan bertahap dan tak  nyeri dalam beberapa bulan atau tahun (tumor jinak) atau  cepat (lesi ganas).
Pembengkakan kelopak: mungkin  jelas pada  pseudotumor, eksoftalmos endokrin atau fistula karotid-kavernosa.
   Palpasi: bisa  menunjukkan massa yang menyebabkan  distorsi kelopak atau bola mata, terutama dengan tumor kelenjar lakrimal atau dengan mukosel. 
Pulsasi:  menunjukkan lesi vaskuler;  fistula  karotidkavernosa atau malformasi arteriovenosa, dengarkan adanya bruit.
  erak mata: sering  terbatas oleh sebab mekanis,  namun bila nyata, mungkin akibat oftalmoplegia endokrin  atau dari  lesi  saraf III, IV, dan VI pada  fisura  orbital (misalnya sindroma Tolosa Hunt) atau sinus kavernosus.
Ketajaman penglihatan: mungkin terganggu langsung  akibat terkenanya saraf optik atau retina, atau tak  langsung akibat kerusakan vaskuler.
            
D. Pemeriksaan        
Foto polos orbit: mungkin menunjukkan erosi lokal  (keganasan),  dilatasi foramen optik  (meningioma,  glioma saraf optik) dan terkadang kalsifikasi (retinoblastoma, tumor kelenjar lakrimal). Meningioma sering menyebabkan sklerosis lokal.
  CT scan orbit: menunjukkan lokasi tepat patologi intraorbital dan memperlihatkan adanya setiap perluasan  keintrakranial.
 Venografi orbital: mungkin membantu.
        
E. Pengelolaan       
Tumor jinak: memerlukan  eksisi, namun bila  kehilangan penglihatan merupakan hasil yang tak dapat dihindarkan, dipikirkan pendekatan konservativ.
Tumor ganas: memerlukan biopsi dan radioterapi. Limfoma juga berreaksi baik dengan khemoterapi. Terkadang  lesi terbatas (misal karsinoma kelenjar lakrimal) memerlukan reseksi radikal.
Pendekatan operatif:
Orbital medial: untuk tumor anterior, terletak dimedial saraf optik.
Transkranial-frontal: untuk tumor dengan perluasan  intrakranial atau terletak posterior dan medial dari  saraf optik.
Lateral: untuk  tumor yang terletak superior,  lateral, atau inferior dari saraf optik.
                
F. PSEUDOTUMOR (GRANULOMA ORBITAL)
Nyeri  orbital tiba-tiba dengan  pembengkakan  kelopak, proptosis  dan khemosis akibat infiltrasi limfosit  dan sel plasma pada berbagai struktur didalam orbit. Keadaan  ini biasanya terjadi pada  usia  menengah dan  jarang terjadi bilateral. CT  scan  memperlihatkan lesi  orbital difus, walau mungkin lebih  dominan  pada satu struktur, misalnya saraf optik,  otot  ekstra-okuler atau kelenjar lakrimal. Bila diagnostik tetap meragukan, diperlukan biopsi. Kebanyakan pasien   memperlihatkan respons yang dramatis terhadap steroid. Bila gejala menetap, lesinya akan berreaksi baik terhadap  radioterapi.
        
G. EKSOFTALMOS ENDOKRIN        
Pasien  tirotoksik dengan eksoftalmos  bilateral  tidak sulit  untuk didiagnosis, namun  eksoftalmos  endokrin, dengan edema kelopak yang jelas, retraksi kelopak,  dan oftalmoplegia mungkin terjadi unilateral dan dengan tiroksin  dan triiodotironin serum normal.  Bila  curiga, tes  stimulasi TRH mungkin membantu menegakkan  diagnosis. Pada beberapa pasien penyakitnya berlangsung terus dan menyebabkan ulserasi korneal, edema papil dan  bahkan  kebutaan. Pada keadaan ini dekompresi orbital  sangat bermanfaat
































DAFTAR PUSTAKA


http://www.dexamedica.com, Tumor Orbita
http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/Orbita.html, Tumor Orbita
http://www.parentsguide.co.id, Mata Julig, gejala awal kanker mata
http://cyberwoman.cbn.net.id, Waspadai kanker mata
http://www.ahmadfaried.com, Tumor retina
http://www.pdpersi.co.id, Mata kian menonjol, waspadai kanker mata


Photobucket